CARA MENJADI KUNCI/PEMBUKA BERBAGAI KEBAIKAN

CARA MENJADI KUNCI / PEMBUKA BERBAGAI KEBAIKAN

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya ada diantara manusia menjadi kunci-kunci kebaikan, penutup keburukan dan ada di antara manusia yang menjadi kunci-kunci keburukan, penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang-orang yang Allah jadikan sebagai kunci kebaikan di atas tangannya dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci keburukan di atas tangannya (HR Ibnu Majah, Ibnu Abi Ashim, Ath Thayalisi, Al Baihaqi dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no.1332). Sesungguhnya setiap muslim sangat menginginkan kebahagiaan, dan kesuksesan dirinya di dunia dan akhirat, ketika mendengar hadits Anas di atas pasti hatinya tergerak dan berharap agar dirinya menjadi kunci-kunci kebaikan dan tidak menjadi kunci-kunci keburukan. Maka wajib baginya berusaha, memahami dan meminta pertolongan serta bersandar pada Allah untuk merealisasikan sebab-sebab tersebut, tidak hanya mengkhayal saja.

Pembicaraan dalam masalah ini sangat penting dan kita butuhkan dalam berbagai perkara. Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al Badr dalam kutaibnya menyebutkan 16 langkah bagaimana caranya menjadi pembuka berbagai kebaikan, yaitu:

1. Langkah awal untuk menjadi kunci berbagai kebaikan adalah bergantung kepada Al Fattah (Maha Pemberi Anugerah), bertawassul dengan Nama Al Fattah dan merendahkan diri kepada-Nya. Al Fath (anugerah) semuanya dari Allah. Anugerah ilmu bermanfaat, beramal shalih, dan berakhlaq yang mulia. Tidak mungkin Anda memperoleh ilmu dan pemahaman kecuali dengan anugerah dari Allah. Allah berfirman: (Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu) QS Fathir: 2.

2. Tauhid dan Ikhlas
Sesungguhnya pembuka berbagai kebaikan yang paling agung adalah mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan agama kepada-Nya. Tauhid (Mengesakan Allah) adalah kunci dari banyaknya kebaikan, dan merupakan kunci surga. Terdapat hadits dalam riwayat Al Bazzar di musnadnya dari Muadz bin Jabal sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : (Kunci surga adalah syahadat La Ilaha Illallah). Hadits ini dalam sanadnya diperbincangkan, tetapi maknanya benar; tidak diragukan lagi dan ia memiliki banyak penguat hadits-hadits yang lain. Tidak mungkin seseorang memasuki surga kecuali dengan mentauhidkan Allah. La Ilaha Illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah) adalah kalimat Tauhid dan merupakan kunci surga, tetapi kunci ini tidak akan berfungsi dan seorang hamba tidak bisa masuk surga kecuali dengan cara merealisasikan syarat2 kalimatnya.
Oleh sebab itu Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya dari wahb bin munabbih (ulama tabiin)- beliau ditanya, dikatakan kepadanya : “Bukankah La Ilaha Illallah adalah kunci surga ? Beliau jawab : Iya, tetapi tidaklah ada kunci melainkan bergerigi (memiliki gigi-gigi), jika engkau membawa kunci yang bergerigi maka akan dibukakan bagimu, jika tidak maka tidak dibukakan bagimu”.
Para Ulama dalam berbagai kitab Tauhid menyebutkan syarat La Ilaha Illallah ada 7 yaitu : 1. Ilmu (mengetahui) dalam bentuk peniadaan semua yang disembah selain Allah dan menetapkan Allah-lah satu-satunya Dzat yang berhak disembah dan tidak boleh disekutukan 2. Yakin 3. Jujur 4. Ikhlas 5. Cinta 6. Tunduk 7. Menerima. Maka wajib bagi siapa yang ingin menjadi kunci berbagai kebaikan atas dirinya dan orang lain untuk merealisasikan Tauhid dan ikhlas kepada Allah dan meniatkan semua amal, ketaatan untuk wajah Allah agar memperoleh pahala di surga.

3. Ilmu yang bermanfaat yang berlandaskan Al Quran dan As Sunnah
Ilmu adalah asas yang harus dipenuhi agar seorang hamba menjadi pembuka kebaikan, dan barang siapa yang tidak memiliki ilmu yang bermanfaat bagaimana ia bisa membedakan antara kunci-kunci kebaikan dan kunci-kunci keburukan? Bagaimana membedakan antara kebenaran dan kebatilan? Bagaimana membedakan antara sunnah dan bid’ah? Bagaimana membedakan antara petunjuk dan kesesatan?
Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Yusuf : 108
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ
(Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata).

Barang siapa yang menginginkan dirinya menjadi pembuka kebaikan, hendaklah ia bersemangat meraih ilmu yang bermanfaat dan benar-benar memperhatikannya. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang meniti jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan ke surga” (HR Muslim). Jika seorang hamba tidak menghiasi dirinya dengan ilmu, bisa jadi ia akan terjerumus pada berbagai perkara kesesatan, bid’ah dan hawa nafsu dan ia menyangka telah berbuat hal yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya” (HR Ad Darimi No.204).

4. Memperhatikan Hal-hal yang wajib/fardhu dalam agama Islam
Barang siapa yang memperhatikan hal-hal yang wajib/fardhu dalam agama Islam dan berusaha keras melaksanakannya, niscaya akan dibukakan pintu-pintu kebaikan yang tidak disangka-sangka. Banyak dalil yang menunjukkannya. Dalam shahih Bukhari dari Ummu Salamah, istri Nabi berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun pada suatu malam lalu beliau berucap: “La Ilaha Illallah, dalam riwayat lain: Subhanallah! Fitnah apa yang Allah turunkan malam ini? Perbendaharaan apa yang Allah turunkan malam ini?”
Perhatikan pembaca yang mulia, fitnah telah turun dan pintu-pintu perbendaharaan kebaikan telah dibuka, maka apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan:
“Barang siapa yang membangunkan para pemilik kamar kemudian mereka shalat”
Jika engkau ingin menjauhi fitnah dan mengingginkan menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan maka hal itu terdapat dalam shalat. Rasulullah juga mengajarkan kita ketika masuk masjid dengan doa: اللهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ (Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu kepadaku)
Dan lihat juga terbukanya pintu-pintu kebaikan dalam ibadah puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika datang malam pertama bulan ramadhan dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan-setan dibelenggu, dan berserulah orang yang berseru: wahai pencari kebaikan datanglah, dan wahai pencari keburukan, diamlah di tempat” (HR Tirmidzi, dan selainnya dan dihasankan oleh al-Albani).

5. Berjuang untuk menjauhi dosa
Barang siapa yang menginginkan dirinya menjadi pembuka kebaikan dan penutup keburukan hendaklah ia mengetahui bahwa ia berjalan di atas jalan yang lurus menuju surga, dan di samping kiri-kanan jalan terdapat jalan-jalan yang banyak yang tidak terkunci/tertutup yaitu pintu-pintu menuju hal-hal yang haram. Maka hendaklah ia berhati-hati, sekali ia masuk maka ia telah membuka satu pintu keburukan kemudian akan terbuka pintu-pintu yang lain karena jiwa itu jika telah masuk pada hal yang haram, ia tidak mau sendirian sehingga ia berubah dari pelaku keharaman menjadi da’i/orang yang mengajak untuk mengerjakan hal yang haram dan menyenanginya. Sebagaimana terjadi pada pelaku kebatilan dan kesesatan, awalnya menjadi pelaku kemudian menjadi da’i (penyeru) kepada kebatilan. Khalifah Utsman pernah mengatakan: “Wanita pezina menginginkan seandainya seluruh wanita berzina” (Al-Itiqamah, 2/257)

6. Berdoa
Berdoa adalah pembuka berbagai kebaikan, salah seorang salaf berkata: “Aku telah merenungkan kumpulan kebaikan maka aku mendapati kebaikan itu memiliki pintu-pintu yang banyak: Shalat itu kebaikan, puasa itu kebaikan, haji itu kebaikan, pintu-pintu kebaikan itu banyak dan aku mendapati semuanya berada di Tangan Allah, maka aku berkeyakinan bahwa doa adalah kunci/pembuka semua kebaikan”.
Doa-doa dalam hal ini sangatlah banyak, diantaranya doa keluar rumah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
Doa setelah shalat shubuh:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

7. Menjauhi Sumber-sumber fitnah dan syubhat serta berhati-hati terhadap hal tersebut
Hal ini akan mendatangkan keselamatan bagi diri seorang hamba dan Keselamatan sehingga ia tidak menjadi pembuka keburukan bagi manusia. Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seunggguhnya akan datang perkara-perkara yang musytabihat (samar), maka tetaplah kalian perlahan-lahan (jangan tergesa-gesa) karena sesungguhnya kalian menjadi pengikut kebaikan lebih baik daripada menjadi tokoh keburukan” (HR Ibnu Abi syaibah dalam Al-Mushannaf, 15/34 dan al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab 7/297).
Maka barang siapa yang menginginkan dirinya menjadi pembuka kebaikan, penutup keburukan hendaklah ia berhati-hati terhadap perkara musytabihat dan fitnah dan tidak tergesa-gesa dan dia perlu menghubungi/komunikasi dengan ulama kibar untuk bermusyawarah, dan meminta bimbingan mereka dan janganlah ia cepat-cepat mengambil pendapatnya sendiri atau perkataan yang ia kagumi karena jika ia tergea-gesa maka ia telah menjerumuskan dirinya pada keburukan dan bisa menjadi pembuka keburukan bagi orang lain.

8. Bijaksana dan bergaul bersama manusia dengan akhlak yang mulia
Hal tersebut merupakan sebaik-baik pendukung untuk menjadi pembuka berbagai kebaikan. Dan percayalah -wahai saudaraku- seungguhnya orang yang berperangai jahat dan bermuamalah dengan buruk tidak akan mungkin membuka hati-hati manusia. Allah berfirman kepada Nabi-Nya pemuka Bani Adam:
(“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” QS Ali Imran:159)

9. Bergegas menuju kebaikan
Seorang hamba tidak akan mampu untuk membuka kebaikan kepada manusia kecuali jika ia memperhatikan kebaikan, melakukannya dan bergegas menuju kepadanya, lihat apa kata Syu’aib ketika berbicara pada kaumnya: (“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang” QS Hud: 88). Berdasarkan hal tersebut, seorang yang mengajak manusia pada kebaikan hendaknya ia bergegas melaksanakan kebaikan.
Allah berfirman dalam Al-Ahzab: 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. Maka tidak cukup seseorang menjadi dai dengan ucapan-ucapannya padahal realitanya ia lalai dengan perbuatan-perbuatan yang ia lakukan; seharusnya perbuatannya menjadi teladan bagi manusia.

10. Mengingat akhirat dan saat menghadap di hadapan Allah
Diantara perkara yang dapat menjadikan seseorang menjadi pembuka kebaikan adalah mengingat akhirat dan saat menghadap di hadapan Allah, serta ketika pembalasan amal dimana semua perkataan dan perbuatannya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.
Dan ingatlah bahwa surga itu ada delapan pintu, dan neraka ada tujuh pintu. Setiap pintu memiliki kunci-kunci. Kunci-kunci surga dan neraka berada di dunia bukan di akhirat. Di akhirat tidak lain hanyalah pembalasan amal dan hisab, adapun di dunialah terdapat kunci-kuncinya. Kunci surga adalah bertauhid, shalat, puasa, taat kepada Allah, melakanakan perintah-Nya. Dan kunci neraka adalah syirik kepada Allah, kufur kepada-Nya, melakukan perbuatan dosa dan maksiat.
Jika seeorang mati dalam keadaan Syirik dan kufur kepada Allah maka akan dibuka pintu-pintu neraka dan ia kekal selama-lamanya. Jika ia bermaksiat dan melakukan perbuatan dosa maka ia akan masuk neraka lalu diadzab sesuai kadar dosanya dan ia tidak kekal di neraka kecuali jika ia berbuat syirik.
11. Berteman dengan orang-orang yang baik dan duduk dengan orang-orang yang shalih
Barang siapa yang ingin menjadi pembuka kebaikan hendaklah ia bersabar bersama orang-orang yang baik dan yang melakukaan ketaatan. Allah berfirman dalam QS Al Kahfi:28, (Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas).
Hendaknya ia juga berhati-hati untuk berteman dengan orang-orang yang jahat dimana ia nanti akan menyesal pada hari kiamat dan penyesalannya tidak akan bermanfaat.
(Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia). QS Al Furqan:27-29

12. Bersemangat menyebarkan kebaikan
Memberikan nasihat kepada manusia ketika ia bergaul, dan bermuamalah dengan mereka dengan cara menyibukkan pada hal yang baik dan memalingkan dari hal-hal yang buruk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: (Agama adalah nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat). HR Muslim
Seseorang tidak akan bisa menjadi pembuka kebaikan kecuali jika dalam setiap majlis ia selalu bersemangat menyebarkan kebaikan. Oleh karena itu Ibnul Qayyim menjelaskan arti dari ayat Al Quraan surat Maryam:31 “ Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada” beliau berkata maksudnya adalah menjadi orang yang mengajarkan kebaikan, dai/ mengajak kepada Allah, mengingatkan kebaikan dan senang melakukan ketaatan kepada-Nya, dan ini merupakan barakah seeorang, jika tidak terpenuhi hal ini maka ia tidak memperoleh barakah dan hilanglah barakah pertemuan dan perkumpulannyaa”
Rasululah bersabda: “sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan selamat dari kejelekannya” (HR Tirmidzi dan lainnya, dishahihkan oleh Al Albani).

13. Pintu-pintu kebaikan itu Saling mengikuti
Barang siapa yang telah dibukakan satu pintu maka akan terbukalah pintu-pintu yang lain, dan ini merupakan nikmat dari Allah. Para ulama berkata: “sesungguhnya kebaikan itu memanggil saudara-saudaranya dan mengajak kepadanya”. Jika engkau telah dilapangkan terhadap satu pintu kebaikan maka sambutlah, karena ini nikmat Allah untukmu karena kebaikan itu memanggil kebaikan lain. (“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” QS Ar Rahman:60). Dan jika engkau mendapati dirimu semangat dalam satu pintu dari pintu-pintu kebaikan maka manfaatkanlah sebelum engkau terpisah darinya walaupun kebaikan itu tergolong perkara yang kecil.

14. Janganlah meremehkan pintu-pintu kebaikan yang dibukakan pada orang lain
Barang siapa yang telah dibukakan pintu-pintu kebaikan, maka janganlah ia meremehkan pintu-pintu kebaikan pada orang lain. Kamu di atas kebaikan dan dia di atas kebaikan karena bisa jadi amalan orang lain lebih baik daripada amalan yang engkau lakukan. Ada kisah yang bagus yang terjadi antara Imam Malik dan salah satu ahli ibadah, kisah tersebut disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam At Tamhid dan Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala: bahwasanya Abdullah bin Abdul Aziz Al Umari Ahli Ibadah menulis kepada Malik agar dia menyendiri dan bekerja serta membenci majlis ilmu, maka Malik menulis kepadanya: “Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi amal sebagaimana membagi-bagi rizki, betapa banyak orang yang dibukakan pintu shalat akan tetapi tidak dibukakan pintu untuk puasa; ada yang dibukakan pintu untuk bersedekah, tetapi tidak dibukakan pintu untuk berpuasa; ada yang dibukakan pintu berjihad, tetapi tidak dibukakan pintu untuk shalat; dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya adalah termasuk amalan kebaikan yang paling utama. Dan aku telah ridha terhadap apa yang Allah anugerahkan kepadaku dari hal tersebut; dan aku tidak menganggap bahwa aku tidak termasuk di dalam kebaikan tanpa adanya kamu di dalamnya, dan aku berharap kita semua di atas kebaikan, dan wajib bagi setiap dari kita untuk ridha terhadap apa yang dibagikan kepadanya.”
Lihatlah perkataan Orang yang berilmu (Malik) ini: dan aku berharap kita semua di atas kebaikan dan ia tidak berkata: kamu tidak paham; atau kamu tidak memiliki seperti yang aku miliki dari ilmu dan urusanmu sangat remeh. Akan tetapi ia berkata dengan perkataan yang indah serta tawadhu’ : “dan aku berharap kita semua di atas kebaikan”, saya di atas kebaikan dan kamu di atas kebaikan, tetapi kebaikan yang aku lakukan adalah lebih besar karena manfaatnya tidak terbatas pada satu orang, berbeda dengan ahli ibadah yang manfaatnya hanya terbatas pada dirinya saja.

15. Mengobati jiwanya dari penyakit hati
Barang siapa yang menginginkan dirinya menjadi pembuka kebaikan maka hendaknya ia bersungguh-sungguh mengobati dirinya dari penyakit hati dngan meminta pertolongan kepada Allah. Dada jika terdapat di dalamnya kedengkian, maka bagaimana pemiliknya bisa menjadi pembuka kebaikan bagi orang lain? Ambilllah permisalan : Imamnya para pendengki yaitu Iblis ketika ia dengki/hasad terhadap Bapak kita Adam, apa yang ia lakukan? Ia datang dalam bentuk sebagai pemberi nasihat yang terpercaya, lalu mulailah ia membujuknya dan menyebutkan perkara-perkara seolah-olah ia pemberi nasihat. Allah berfirman:
(“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”, maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya” … QS Al A’raf:20-22)
Dengan demikian, barang siapa yang di hatinya terdapat bibit-bibit keburukan, kedengkian dan semisalnya maka ia tidak akan bisa menjadi pembuka kebaikan, bahkan akan menjadi pembuka keburukan. Maka hati membutuhkan pengobatan yang terus menerus dan berharap kepada Allah agar dijauhkan dari hati yang penuh kedengkian dan dibersihkan dari perkara-perkara yang semisal dengan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berdoa:
اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

16. Senang dalam kebaikan dan memberikan manfaaat bagi orang lain
Sebagai penutup dari cara menjadi pembuka berbagai kebaikan adalah senang dalam kebaikan dan memberikan manfaaat bagi orang lain. Jika terdapat kesenangan, tetapnya niat, tekad yang kuat dan meminta pertolongan kepada Allah dan ia mendatangi berbagai perkara dari pintu-pintunya, dengan izin Allah ia menjadi pembuka kebaikan dan penutup keburukan.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita untuk menjadi kunci/pembuka pintu-pintu kebaikan dan tidak menjadikan kita sebagai pembuka pintu-pintu keburukan.
—————————————————————————————————–
(Faidah dari kutaib “kaifa takunu miftahan lil khair?” oleh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq Al Badr)

Muhammad Taufik
Kota Nabi, 15 Dulhijjah 1435 H

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: