Dalil tentang Menimbun (Ihtikar)

Pengertian Menimbun (Ihtikaar)

Menimbun dalam bahasa Arab adalah الاحْتِكارُ dari kata  يحتكر احتكر yang bermakna secara bahasa adalah al habsu (menahan) dan al jam’u (mengumpulkan). Ibnu Mandzur rahimahullah berkata:”Ihtikaar adalah menahan bahan makanan sambil menunggu (naiknya harga).[1]

Sedangkan menurut syara’ penimbunan barang adalah membeli suatu barang lalu menyimpannya agar barang tersebut berkurang di masyarakat dan harganya menjadi mahal, sehingga masyarakat akan menderita (Sabiq 2006).[2]

Dalil-dalil tentang larangan ihtikaar

Banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan larangan adanya praktik ihtikaar, diantaranya:

v  Hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No.1605 rahimahullah:

(عن سعيد بن المسيب، عن معمر بن عبدالله عن رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال (لا يحتكر إلا خاطئ

“Dari Sa’id ibnul Musayyib, dari Ma’mar bin Abdillah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Tidaklah seorang menimbun kecuali dia berdosa”.

Dan dalam redaksi riwayat Imam Muslim disebutkan:

كان سعيد بن المسيب يحدث؛ أن معمرا قال:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (من احتكر فهو خاطئ). فقيل لسعيد: فإنك تحتكر؟ قال سعيد: إن معمرا الذي كان يحدث هذا الحديث كان يحتكر.

“Said ibnul Musayyib telah menceritakan, sesungguhnya Ma’mar berkata, Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang menimbun maka dia telah berbuat dosa. Lalu Said ditanya, “Kenapa engkau lakukan ihtikaar?” Said menjawab, “Sesungguhnya Ma’mar yang meriwayatkan hadits ini telah melakukan ihtikaar”.

Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Sa’id dan Ma’mar hanya menimbun minyak, sedang mereka menafsirkan hadits dalam bab ini kepada arti penyimpanan bahan pokok pada waktu dibutuhkan, demikian juga Imam Syafii dan Abu Hanifah dll. Dan hadits itu juga menunjukkan penimbunan yang dilarang itu ialah ketika dalam keadaan barang-barang yang ditimbun itu dibutuhkan dan sengaja bertujuan menaikkan harga” (Faishal 2001).

v  Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad No.8617, sanadnya hasan menurut Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah, sedangkan menurut Pentahqiq Musnad Ahmad (Syaikh Syu’aib Al-Arnauth, Adil Mursyid dan lainnya) status haditsnya Hasan Li-ghairihi:

من احتكر حكرة يريد أن يغالي بها على المسلمين فهو خاطئ

“Barangsiapa menimbun suatu timbunan supaya menjualnya dengan harga yang tinggi kepada kaum muslimin, maka dia telah berbuat dosa”.

v  Hadits Riwayat Ibnu Majah No.2155, menurut Syaikh Al-Albani hadits ini dhaif .

“من احتكر على المسلمين طعامهم ضربه الله بالجذام والإفلاس” 

“Barangsiapa yang menimbun bahan makanan bagi kaum muslimin, maka Allah akan menimpakan penyakit lepra dan kebangkrutan”.

v  Hadits riwayat Ibnu Majah No.2153, dan dhaif menurut Syaikh Al-Albani

“الجالب مرزوق والمحتكر ملعون”

      “Orang yang mendatangkan barang akan diberi rizki, dan yang menimbun barang akan dilaknat”.

v  Hadits riwayat Ahmad No.4880, Hakim No.2165, dan menurut Syaikh Al-Albani haditsnya Mungkar dalam Dhaif Targhib wa Tarhib No.1100

 “من احتكر طماعا أربعين ليلة فقد برئ من الله وبرئ منه”    

            ”Barangsiapa menimbun bahan makanan selama 40 malam, sungguh ia telah berlepas dari Allah dan Allah berlepas darinya”.


[1]               Lihat lisaanul ‘arab untuk huruf ro’, pengertian ini hampir semuanya disebutkan oleh ulama ahli bahasa dalam kitab-kitabnya (lihat Qamus al muhiith, ash shihhaah fil lughoh, an nihaayah fi ghoriibil hadiits wal atsar, taajul ‘uruus).

[2]               Demikian juga yang diartikan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam kitab fathul bari-nya.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: