Konsep Maqashid Syariah

Abu Zahrah (1958), mengemukakan Syariat Islam datang untuk membawa rahmat bagi manusia. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

                “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS Al-Anbiya’:107)

Allah juga berfirman dalam ayat yang lain,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

                “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS Yunus:57)

Syariat hukum Islam juga dibangun di atas tujuan yang mulia yaitu untuk merealisasikan kemaslahatan hamba baik di dunia maupun di akhirat (Al-Khalifi, 2004). Tujuan dan sasaran yang diinginkan dalam syariat Islam ini dinamakan dengan maqashid syariah.

Definisi Maqashid Syariah

Maqashid Syariah tergabung dari kata Maqashid dan Syariah. Secara bahasa maqashid merupakan bentuk jamak (plural) dari kata maqshad yang berarti tujuan. Adapun pengertian syariah adalah apa-apa yang telah ditetapkan dan dijelaskan oleh Allah kepada hamba-Nya baik yang berkaitan dengan masalah akidah dan hukum[1].

Para ulama Mutaakhirin (kontemporer) mendefinisikan maqashid syariah sebagai berikut :

  1. Menurut Thahir Ibnu Asyur, maqashid syariah adalah makna-makna dan hikmah-hikmah yang telah dijaga oleh Allah dalam segala ketentuan hukum syariah baik yang kecil maupun yang besar dan tidak ada pengkhususan dalam jenis tertentu dari hukum syariah (Raysuni, 1992).
  2. ‘Allal al-Fasy mendefinisikan maqashid syariah sebagai tujuan-tujuan dan rahasia-rahasia yang telah ditetapkan Allah dalam setiap hukum (Al-Fasy, 1993).
  3. Dr. Ahmad Raysuni mendefinisikan maqashid syariah sebagai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk merealisasikan kemaslahatan hamba (Raysuni, 1992).
  4. Adapun Dr. Muhammad al-Yubi mendefinisikan maqashid syariah adalah makna-makna dan hikmah-hikmah yang telah ditetapkan oleh Allah dalam syariatnya baik yang khusus atau umum yang bertujuan untuk merealisasikan kemaslahatan hamba (al-Yubi, 1998).

Pembagian dan Klasifikasi Maqashid Syariah

Para ulama berbeda-beda dalam mengklasifikasikan maqashid/tujuan dari syariah secara umum, akan tetapi intinya tetap sama.

  1. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa basis syariah adalah hikmah dan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.  Kemaslahatan ini terletak pada keadilan sempurna, rahmat, kesejahteraan, dan hikmah. Apa saja yang membuat keadilan menjadi aniaya, rahmat menjadi kekerasan, kemaslahatan menjadi rusakan, dan hikmah menjadi kesia-siaan, maka hal itu tidak ada kaitannya dengan syariah (Al-Jauziyah, 1973).
  2. Ibnu Asyur menyebutkan bahwa secara umum tujuan dari syariah adalah: menjaga aturan hidup, mewujudkan kemaslahatan, menolak bahaya, menegakkan persamaan/kesetaraan antar manusia, menjaga kemuliaan syariah, menguatkan dan memberikan ketenangan bagi umat manusia (Raysuni, 1992).
  1. Adapun ‘Allal al-Fasy menyebutkan tujuan syariah adalah: memakmurkan bumi, menjaga aturan hidup, menegakkan keadilan dan keistiqamahan, selalu mewujudkan kemaslahatan baik bagi akal, pekerjaan, dan sesama manusia di bumi, memberikan dan mengatur kemanfaatan bagi orang banyak (Raysuni, 1992).
  2. Adapun Abu Zahrah (1958) mengklasifikasikan bahwa hukum-hukum dalam syariat Islam bertujuan untuk tahdzib al-fard (pendidikan bagi individu), iqamah al-adl (menegakkan keadilan), dan maslahah (kemaslahatan).

Abu Zahrah (1958) melanjutkan jika disebut istilah maslahah maka yang dimaksud adalah maslahah yang hakiki yang kembali pada lima hal yang pokok yaitu penjagaan terhadap agama, jiwa, harta, akal dan keturunan. Asy-Syathibi (1997) menjelaskan lima yang pokok (dharuriyyat) ini harus ada demi tegaknya kemaslahatan agama dan dunia, di mana apabila ia tidak ada maka kemaslahatan dunia tidak akan berjalan stabil bahkan akan berjalan di atas kerusakan, kekacauan, dan hilangnya kehidupan, sedang di akhirat akan kehilangan keselamatan, kenikmatan, serta kembali dengan membawa kerugian yang nyata.

Maslahah yang dharuriyyat (pokok) inilah yang diisyaratkan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab ­­al-Mustashfa. Beliau berkata:

لكنا نعني بالمصلحة المحافظة على مقصود الشرع ومقصود الشرع من الخلق خمسة وهو أن يحفظ عليهم دينهم ونفسهم وعقلهم ونسلهم ومالهم فكل ما يتضمن حفظ هذه الأصول الخمسة فهو مصلحة وكل ما يفوت هذه الأصول فهو مفسدة ودفعها مصلحة

“Akan tetapi yang kami maksud dengan maslahah adalah penjagaan terhadap tujuan dari syariah dan tujuan dari syariah terdiri dari lima hal yaitu penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Maka apa saja yang menjamin terjaganya kelima pokok ini disebut dengan maslahah dan setiap perkara yang luput darinya disebut mafsadah (kerusakan).” (Al-Ghazali, 1991)

Menurut Chapra (2000), dengan sangat bijaksana Imam Ghazali meletakkan iman/agama pada urutan pertama dalam daftar maqashid. Karena dalam persepktif Islam, iman adalah isi yang sangat penting bagi kebahagiaan manusia. Imanlah yang meletakkan hubungan-hubungan kemanusiaan pada fondasi yang benar, memungkinkan umat manusia untuk berinteraksi satu sama lain dalam suatu pergaulan yang seimbang dan saling menguntungkan dalam mencapai kebahagiaan bersama. Adapun harta berada dalam urutan terakhir karena harta bukanlah tujuan itu sendiri. Ia hanyalah suatu perantara (alat), meskipun sangat penting untuk merealisasikan kebahagiaan manusia. Harta benda tidak dapat mencapai tujuan ini kecuali bila dialokasikan dan didistribusikan secara merata. Tiga tujuan yang berada di tengah (jiwa, akal, dan keturunan) berhubungan dengaan manusia itu sendiri, kebahagiaannya menjadi tujuan utama dari maqashid.

Selain maslahah dharuriyyat, terdapat pula maslahah hajiyat dan tahsiniyat sebagaimana disebutkan pula oleh Al-Ghazali dalam al-Mustashfa dan Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat. Asy-Syathibi (1997) menjelaskan, adapun tingkatan maslahah yang kedua adalah hajiyat yang berarti segala perkara yang diperlukan manusia untuk menghilangkan kesulitan, dan jika perkara itu tidak terwujud maka tidak akan merusak tatanan kehidupan, tetapi manusia akan mengalami kesulitan. Contohnya dalam Muamalah adalah dibolehkannya akad Qiradh (Mudharabah), Musaqah dan Salam.

Sedangkan tingkatan maslahah yang terakhir adalah tahsiniyat yaitu mengambil segala tradisi yang baik dan menjauhi keadaan-keadaan yang menodai dan mengotori akal yang sehat dan semuanya tercakup dalam akhlak yang mulia. Misalnya adab makan dan minum, dalam muamalah seperti dilarangnya jual beli benda najis.

Semoga bermanfaat.

Muhammad Taufik

Sentul, 29 Shafar 1433 H.

Referensi

Abu Zahrah, Muhammad. 1958. Ushulul Fiqh. Darul Fikri al-Araby.

Al-Fasy, ‘Allal. 1993. Maqashid Asy-Syariah Al-Islamiyyah Wa Makarimuha (Cet.5). Darul Garb Al-Islamy.

Al-Ghazali, Abu Hamid. 1413 H/1991 M. Al-Mushtasyfa Min Ilmil Ushul (Cet.1). Tahqiq: Muhammad Abdus Salam. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah.

Al-Jauziyah, Ibnul Qayyim. 1973. I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil Alamin. Tahqiq: Thaha Abdur Rauf Sa’d. Beirut: Darul Jail.

Al-Khalifi, Riyadh Manshur. 2004. Al-Maqashid as-Syar’iyyah wa Atsaruha fi Fiqhi al-Muamalat al-Maliyyah. Jeddah: Majallah Jami’ah al-Malik Abdul Aziz Al-Iqtishad al-Islamy.

Al-Yubi, Muhammad Saad. 1998. Maqashid asy-Syariah al-Islamiyah Wa ‘Alaqatuha Bil Adillah Asy-Syar’iyyah (Cet.1). KSA: Darul Hijrah Lin Nasyr Wat Tauzi’.

Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. 1997. Al-Muwafaqat (Cet.1). Tahqiq: Masyhur Hasan Salman. Daru Ibni Affan.

Chapra, M.Umar. 1999. Islam dan Tantangan Ekonomi: Islamisasi Ekonomi Kontemporer. Nur Hadi Ihsan, penerjemah. Surabaya: Risalah Gusti. Terjemahan dari: Islam and Economic Challenge.

Majma’ Lughah al-Arabiyyah. 2004. Mu’jam al-Wasith (Cet.4). Mesir: Maktabah Syuruq ad-Dauliyah.

Raysuni, Ahmad. 1992. Nazahariyyah al-Maqashid ‘Inda al-Imam Asy-Syathibi (Cet.2). Ad-Dar Al-Alamiyyah Lil Kitab Al-Islamy.


[1] Lihat Majma’ Lughah al-Arabiyyah. 2004. Mu’jam al-Wasith. Mesir: Maktabah Syuruq ad-Dauliyah. Cet.4 hlm.509 dan 738

, , , ,

  1. #1 by putri nafi'ah on March 9, 2014 - 2:43 am

    saya izin copy sebagian. terima kasih. semoga senantiasa bermanfaat.

    • #2 by Thalibul 'Ilm on April 8, 2014 - 8:54 am

      silahkan. asalkan tetap mencantumkan sumbernya. smg bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: