Muamalah dengan Pemerintah: Antara Memberi Nasihat dan Memberontak

Saudara pembaca yang semoga dirahmati Allah, sesungguhnya kepemimpinan dalam Islam merupakan perkara yang agung, amanah yang berat serta akan dituntut pertanggung jawabannya di hadapan Allah kelak pada hari kiamat. Sudah menjadi perkara yang wajar jika kita mengharapkan figur-figur pemimpin/penguasa yang adil, amanah, dan mampu mengayomi rakyatnya. Akan tetapi, terkadang harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Terutama di zaman seperti sekarang ini, sangat sulit menemukan sosok pemimpin seperti Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin abdul Aziz rahimahullah.

Benarlah sabda Rasulullah yang berbunyi, “Setelah wafatku akan ada para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku, dan tidak meneladani sunnahku”. (HR Muslim No.1847). Maka, dengan memohon pertolongan dari Allah, pada pembahasan kali ini penulis akan mengangkat pembahasan seputar muamalah dengan pemimpin/penguasa, wajibnya mendengar dan taat kepadanya, serta urgensi nasihat dan doa kebaikan bagi para penguasa yang zalim.

Menurut Dr. Khalid Al Anbari dalam Fiqhu as-Siyasah asy-Syar’iyyah, penguasa atau pemimpin suatu negeri Islam memiliki banyak gelar diantaranya imam, waliyyul amri, khalifah, sulthan, amirul mu’minin dan malik (Anbari, 2004:122-123). Istilah-istilah ini secara makna hampir sama intinya yaitu seseorang yang telah diangkat untuk memimpin suatu negeri kaum muslimin, menegakkan agama, membela orang-orang yang teraniaya dan memenuhi hak-hak rakyatnya. Begitu besar kedudukan penguasa, Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya, diantaranya adalah imam (pemimpin) yang adil. (HR Muslim No.1031). ” Di samping itu Rasulullah juga mengancam keras bahwa tidak akan masuk surge para pemimpin yang berbuat curang terhadap rakyatnya. (HR Muslim, No.142)

Sesungguhnya terdapat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk mendengar dan taat kepada penguasa baik yang adil maupun yang zalim. Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu”. (QS An Nisa’:59). Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan taat”. (HR Muslim No.1839).

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam juga bersabda: Setelah wafatku akan ada para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak meneladani sunnahku, serta ada orang-orang yang hatinya seperti hati setan meskipun berbadan manusia, Hudzaifah (Perawi hadits ini-pent) bertanya: ‘Apa yang harus saya lakukan saat itu wahai Rasulullah? Rasulullah bersabda: Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun punggungmu dipukul, hartamu dirampas, maka tetap mendengar dan taat. (HR Muslim No.1847).

Hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali. Bahkan, Imam Muslim dalam kitab shahih-nya membuat bab khusus tentang al-imaroh (pemerintahan) dan beliau membawakan puluhan hadits yang berkaitan dengan wajibnya mendengar dan taat kepada penguasa selama hal itu bukan dalam perkara maksiat.

Ibnu Baththal sebagaimana dinukil oleh Al Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata:

“Para Ahli fiqih telah sepakat atas wajibnya taat kepada pemimpin yang berkuasa dan berjihad bersamanya. Ketaatan kepadanya lebih baik daripada keluar atasnya (memberontak), karena hal itu melindungi darah-darah (manusia) dan membawa ketenangan bagi masyarakat”. (al-Adillah asy-Syar’iyyah/54)

Salah satu prinsip dalam agama Islam ini adalah nasihat bagi para pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat. Mereka (para sahabat) bertanya: Untuk siapa, wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya” (HR Muslim No.55(95).

Dan merupakan kewajiban atas para dai dan orang-orang yang memiliki kecemburuan karena Allah untuk memperhatikan batasan-batasan syariat, menasehati pemimpin mereka dengan ucapan yang baik, bijak serta dengan cara yang baik pula, agar kebaikan itu bertambah banyak dan kejelekan semakin berkurang. Dengan demikian, Allah akan memberi petunjuk kepada para pemimpin kepada kebaikan dan keistiqamahan, dan hasilnya pun akan menjadi baik bagi semua orang.

Diantara cara yang tidak baik dan tidak bijak dalam menjalankan kewajiban menasehati penguasa atau orang lain ialah menyampaikan teguran atau kritikan di hadapan khalayak ramai baik di jalan-jalan, mimbar-mimbar, media masa maupun elektronik. Padahal, Rasulullah shallahu alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk dan prosedur dalam menasehati penguasa dalam sabdanya:

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan padanya.” (HR Ibnu Abi Ashim, Ahmad dan al-Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, Fiqhu as-Siyasah/207)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah dalam bait syairnya pernah berkata:

Tetaplah untuk menasihatiku secara pribadi

Dan jauhilah menasihatiku di hadapan jamaah (manusia)

Karena sesungguhnya nasihat di hadapan manusia termasuk bagian

dari celaan yang aku tidak ridha untuk mendengarnya. (al-Adillah asy-Syar’iyyah/83-84)

Bila hal ini berlaku pada perorangan, maka lebih pantas untuk diindahkan ketika kita hendak menyampaikan nasehat kepada para penguasa, pejabat pemerintahan, atau pemimpin suatu negara. Jika kita tidak mampu menasihati penguasa secara pribadi, maka kita serahkan amanah itu kepada ulama, dai, atau siapapun yang mampu menasihatinnya. Minimal yang dapat kita lakukan adalah bersabar dan berdoa agar Allah agar memperbaiki dan memberi petunjuk kepada penguasa yang zalim terhadap rakyatnya. Karena sebagian ulama berkata: Kezaliman penguasa selama 60 tahun lebih baik daripada kevakuman kekuasaan selama satu malam. (Fiqhu as-Siyasah/121)

Salah satu ibadah yang banyak dilalaikan dan dilupakan oleh umat Islam sekarang ini adalah doa untuk kebaikan penguasa. Padahal, Rasulullah dan para ulama terdahulu sangat memperhatikan masalah ini. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, kalian laknat mereka dan mereka un melaknat kalian. Ada yang bertanya:’wahai Rasulullah, bolehkah kita melawan mereka dengan pedang? Maka Rasulullah menjawab: ’Jangan’. Selagi mereka masih menegakkan shalat, apabila kalian mendapatkan sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya namun jangan sampai tidak menaatinya”. (HR Muslim No.1855)

Imam al-Barbahari pernah berkata:”Jika engkau melihat seseorang mendoakan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk orang yang berpegang kepada Sunnah (shahibus sunnah). (Syarhus Sunnah/42)

Fudhail bin Iyadh juga berkata:”Seandainya aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan (mustajabah) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa.” Ia ditanya: Wahai Abu Ali (Kunyah Fudhail bin Iyadh-pent) jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: Apabila doa itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan Negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya” (Syarhus Sunnah, hlm. 42-43). Semoga Allah memperbaiki keadaan para pemimpin di negeri-negeri kaum muslimin seluruhnya dan memberikan kesabaran kepada kita semuanya. Aamiiin.

 

Sentul, 23 Muharram 1433 H

Muhammad Taufik

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: