CARA MENJADI KUNCI/PEMBUKA BERBAGAI KEBAIKAN

CARA MENJADI KUNCI / PEMBUKA BERBAGAI KEBAIKAN

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya ada diantara manusia menjadi kunci-kunci kebaikan, penutup keburukan dan ada di antara manusia yang menjadi kunci-kunci keburukan, penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang-orang yang Allah jadikan sebagai kunci kebaikan di atas tangannya dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci keburukan di atas tangannya (HR Ibnu Majah, Ibnu Abi Ashim, Ath Thayalisi, Al Baihaqi dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no.1332). Sesungguhnya setiap muslim sangat menginginkan kebahagiaan, dan kesuksesan dirinya di dunia dan akhirat, ketika mendengar hadits Anas di atas pasti hatinya tergerak dan berharap agar dirinya menjadi kunci-kunci kebaikan dan tidak menjadi kunci-kunci keburukan. Maka wajib baginya berusaha, memahami dan meminta pertolongan serta bersandar pada Allah untuk merealisasikan sebab-sebab tersebut, tidak hanya mengkhayal saja.

Pembicaraan dalam masalah ini sangat penting dan kita butuhkan dalam berbagai perkara. Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al Badr dalam kutaibnya menyebutkan 16 langkah bagaimana caranya menjadi pembuka berbagai kebaikan, yaitu: Read the rest of this entry »

,

Leave a comment

Khataman (Al Quran) Bersama

فتوى الشيخ عبد الله بن عبد الرحمن الجبرين
Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin
رقم الفتوى (2650) موضوع الفتوى حكم الختمة الجماعية
Nomor Fatwa 2650 dengan Tema Hukum Khataman (Al Quran) Bersama
السؤالس: ما حكم الختمة الجماعية حيث يقوم جماعة من المسلمين بالاتفاق على أن يقرأ كل منهم جزءًا من القرآن أو جزئين، كُلٌّ يقرأ على انفراد، ثم بعد أن يُنْهِي كل منهم الجزء المحدد له ويختم كل منهم الجزء يكونون بذلك قد ختموا القرآن جميعًا، ثم يقوم أحدهم بالدعاء ـ دعاء ختم القرآن ـ ويُؤَمِّن على دعائه البقية؟
Pertanyaan: Apa hukum khataman bersama dimana sejumlah jamaah dari kaum muslimin bersepakat untuk membaca masing-masing dari mereka satu atau dua juz Al Quran- semuanya membaca sendiri-sendiri kemudian setelah mereka semua selesai dan mengkhatamkan dari juz yang ditetapkan mereka dianggap telah mengkatamkan Al Quran seluruhnya kemudian salah seorang dari mereka berdoa dengan doa khatmil qur’an dan orang-orang mengamininya?

الاجابـــة (Jawaban)
قراءة القرآن من أفضل القُربات، وفيها أجرٌ كبير، فيُثيب الله تعالى كل قارئ بحسب ما قرأ، ولكن إذا كان كلٌّ من هؤلاء الجماعة يقرأ بمفرده جزءًا أو جزئين،
Membaca Al Quran adalah sebaik-baik pendekatan diri pada Allah dan berpahala besar. Allah akan memberi pahala setiap pembacanya sesuai dengan apa yang ia baca. Akan tetapi, jika semua orang dari kelompok pembaca tersebut membaca sendiri-sendiri satu atau dua juz
ولا يسمعه الآخرون فإن ذلك لا يُعَدُّ ختمًا للقرآن، ولا مُدارسة له، أما إذا اجتمعوا في مسجدٍ أو منزلٍ وتحلقوا حَلَقةً أو حِلَقًا، وقرأ أحدهم جُزءًا، أو بعض جُزء ، واستمع له الباقون، وأنصتوا لقراءته، ثم قرأ الثاني بعده جزءًا، أو بعض جزءٍ، وأنصت الباقون له،
dan orang lain tidak mendengarnya maka hal tersebut tidak dihitung telah mengkhatamkan Al Quran, tidak juga termasuk mudarasah (saling mempelajari) AL Quran. Adapun jika mereka berkumpul di masjid, di rumah dan mereka membentuk satu atau beberapa halaqah dan salah seorang dari mereka membaca 1 juz atau sebagian juz dan sisanya (orang lain) mendengarkan dan diam kemudian orang kedua setelahnya membaca 1 juz atau sebagian juz dan sisanya (orang lain) diam.
وهكذا الثالث والرابع… وهَلُمَّ جَرًّا… يقرأ واحد ويستمع الباقون حتى يختموا القرآن، ثم يدعو أحدهم بدعاء ختم القرآن، ويُؤمِّنون على دُعائه؛ فإن ذلك من السُّنة، وهو المراد بقوله الله تعالى: الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ
Dan seterusnya orang yang ketiga dan keempat ……. 1 orang membaca dan sisanya mendengarkan sampai khatam Al Quran kemudian salah seorang dari mereka berdoa khatmil quran dan mereka mengamini atas doanya maka hal tersebut termasuk sunnah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: (Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya)
وقول النبي صلى الله عليه وسلم: وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله، ويتدارسونه بينهم؛ إلا نزلت عليهم السكينة، وغشيتهم الرحمة، وحفَّتهم الملائكة، وذكرهم الله فيمن عنده فذكر أن عملهم تلاوة كتاب الله،
Dan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh untuk membaca Kitabulloh dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat Alloh akan menyelimuti mereka, dan Alloh memuji mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya. Disebutkan bahwa amalan mereka adalah membaca Kitabullah (Al Quran)
والمُدارسة هي: تكراره والإنصات له، على حَدِّ قول الله تعالى: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Mudarasah (Saling mempelajari) berarti mengulang-ulang dan diam mendengarkan Al Quran sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat
وقد ذُكِرَ عن بعض الصحابة الدعاء بعد ختم القُرآن،
والتأمين على الدُّعاء، وقد كتب شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله ـ رسالة في أدعية ختم القرآن مطبوعة ومُشتهرة، وقد تتابع أئمة المُسلمين من عهد الصحابة على الدُّعاء بعد ختم القرآن بما تيسر. والله أعلم.
Disebutkan dari sebagian sahabat ada Doa setelah khataman Al Quran dan mengamini atas doa tersebut. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menulis risalah tentang doa khatam Al-Quran yang telah tercetak dan tersebar. Para Imam Kaum Muslimin dari zaman sahabat juga membaca doa yang mudah setelah khatam Al Quran.

Sumber: http://www.ibn-jebreen.com/fatwa/vmasal-2650-.html

,

Leave a comment

Orang yang Pandai Persoalan Dunia Tapi Bodoh terhadap Urusan Akhirat

Barusan saya mencari takhrij hadits (di maktabah syamilah dan situs dorar.net) yang cukup penting untuk diketahui oleh kita.
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ السُّلَمِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إنَّ اللَّهَ يُبغِضُ كلَّ جَعظريٍّ جوَّاظٍ صخَّابٍ في الأسواقِ جيفةٍ باللَّيلِ حِمارٍ بالنَّهارِ عالِمٍ بأمر الدُّنيا جاهلٍ بأمرالآخرةِ
Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Hasan berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yusuf As Sulami berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Abdur Razzaq berkata Telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Said bin Abi Hind dari Ayahnya dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang perilakunya kasar, sombong, tukang makan dan minum serta suka berteriak di pasar. Ia seperti bangkai di malam hari dan keledai di siang hari. Dia hanya tahu/pandai terhadap persoalan dunia tapi bodoh/buta terhadap urusan akhirat.
Hadits di atas diriwayatkan oleh. Al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, (X/194) No.21325, Ibnu hibban dalam Shahih-nya No.72
Takhrij Hadits:
1. Al Hafizh Al Mundziri dalam At Targhib wa Tarhib 1/304 mengatakan hadits ini shahih atau hasan

2. Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (hadits no. 195) dan dalam Shahihul Jami’ Ash Shagir no.1879 menilai hadits ini shahih. Namun ternyata Syaikh Al-Albani rujuk/meralat dari pendapatnya ini dan beliau mendhaifkan hadits di atas dalam Silsilah Adh-Dhaifah No. 2304.
3. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Ahadits Mu’illah No.413 mengatakan: Rijal (perawi-perawi) hadits di atas terpercaya , tapi Abu Hatim berkata: Said bin Abi Hind tidak bertemu dengan Abu Hurairah.

Setelah takhrij hadits, mari kita melihat Syarah/penjelasan Hadits:
Syaikh Al-Albani mengatakan:
قلت: وما أشد انطباق هذا الحديث – على ضعفه – على هؤلاء الكفار الذين لايهتمون لآخرتهم، مع علمهم بأمور دنياهم، كما قال تعالى فيهم: ” يعلمونظاهرا من الحياة الدنيا، وهم عن الآخرة هم غافلون “، ولبعض المسلمين نصيبكبير من هذا الوصف، الذين يقضون نهارهم في التجول في الأسواق والصياح فيها،ويضيعون عليهم الفرائض والصلوات، ” فويل للمصلين الذين هم عن صلاتهم ساهو ن. الذين هم يراؤن. ويمنعون الماعون “.
“Dan hadits ini sangat pas diterapkan (meskipun dhaif/lemah riwayatnya) kepada orang-orang yang kafir yang tidak memperdulikan urusan akhirat mereka padahal mereka pandai dalam perkara dunia. Sebagaimana Allah berfirman tentang mereka:
“Mereka mengetahui hal-hal yang zhahir dari kehidupan dunia, namun mereka lalai dari kehidupan akhirat”
Dan sebagian kaum muslimin memiliki sebagian besar sifat ini yaitu mereka yang menghabiskan siangnya untuk berjalan-jalan dan berteriak-teriak di pasar dan mereka menyia-nyiakan hal-hal yang wajib dan menyia-nyiakan shalat. “Maka celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu mereka yang lalai dalam shalatnya. Mereka yang berbuat riya’ dan menahan (menolong dengan) barang berguna.
(Lihat Silsilah Dhaifah Jilid 5 hal.329)
Referensi:
— Maktabah Syamilah Versi 2
http://www.dorar.net

Muhammad Taufik
Bogor pada Ahad Sore, 22 September 2013

,

Leave a comment

Pendapat Para Ulama Tentang Menimbun Barang

Pendapat Para Ulama Tentang Menimbun Barang

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum ihtikaar, setidaknya ada lima pendapat tentang masalah ini[1]: Read the rest of this entry »

, ,

Leave a comment

Dalil tentang Menimbun (Ihtikar)

Pengertian Menimbun (Ihtikaar)

Menimbun dalam bahasa Arab adalah الاحْتِكارُ dari kata  يحتكر احتكر yang bermakna secara bahasa adalah al habsu (menahan) dan al jam’u (mengumpulkan). Ibnu Mandzur rahimahullah berkata:”Ihtikaar adalah menahan bahan makanan sambil menunggu (naiknya harga).[1] Read the rest of this entry »

, ,

Leave a comment

Konsep Maqashid Syariah

Abu Zahrah (1958), mengemukakan Syariat Islam datang untuk membawa rahmat bagi manusia. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

                “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS Al-Anbiya’:107)

Allah juga berfirman dalam ayat yang lain,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

                “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS Yunus:57)

Syariat hukum Islam juga dibangun di atas tujuan yang mulia yaitu untuk merealisasikan kemaslahatan hamba baik di dunia maupun di akhirat (Al-Khalifi, 2004). Tujuan dan sasaran yang diinginkan dalam syariat Islam ini dinamakan dengan maqashid syariah. Read the rest of this entry »

, , , ,

2 Comments

Urgensi Pengembangan SDM

Manusia memiliki peran penting dalam pembangunan baik sebagai sarana/alat untuk hal tersebut atau sebagai tujuan akhir dari pembangunan itu sendiri. Pembangunan itu dicapai untuk manusia dan oleh manusia sehingga manusia merupakan agen yang aktif dalam pembangunan. Faktor-faktor yang lain merupakan agent yang pasif (Sadeq, 1991:106). Read the rest of this entry »

,

Leave a comment