Pendapat Para Ulama Tentang Menimbun Barang

Pendapat Para Ulama Tentang Menimbun Barang

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum ihtikaar, setidaknya ada lima pendapat tentang masalah ini[1]:

v  Haram secara mutlak, jadi semua jenis barang yang dibutuhkan manusia (tidak hanya bahan makanan), ini adalah pendapat mayoritas para ulama (Imam Malik, Imam Syaukani rahimahumallah dan selainnya).

Hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(لا يحتكر إلا خاطئ)

”Tidaklah seorang menimbun kecuali dia berdosa”. (HR Muslim)

v  Haram apabila berupa bahan makanan saja, adapun selain itu maka diperbolehkan ini adalah pendapat Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Nawawi rahimahumullah. Dari Imam Ahmad rahimahullah dinukil pendapat bahwa yang diharamkan adalah menimbun bahan makanan pokok. Sedangkan ulama Syafiiyah berpendapat bahwa yang diharamkan hanyalah menimbun bahan makanan pokok bukan lainnya dan tidak ada ukurannya apakah barang-barang itu cukup persediaan atau tidak. Alasannya adalah hadits riwayat Muslim tadi yang menyebutkan Said dan Ma’mar menyimpan minyak. Dhohirnya hadits tadi membolehkan ihtikaar selain bahan makanan.

v  Makruh secara mutlak, dengan alasan bahwa larangan Nabi yang berkaitan dengan ihtikaar adalah terbatas pada hukum makruh saja, lantaran hanya sebagai peringatan kepada umatnya. Ini adalah pendapat al-Qodhi Husain rahimahullah.

v  Haram ihtikaar di sebagian tempat saja, seperti di kota Makkah dan Madinah, sedangkan tempat-tempat selainnya, maka dibolehkan ihtikaar, hal ini karena kota Makkah dan Madinah adalah dua kota yang terbatas lingkupnya, sehingga apabila ada yang melakukan ihtikaar salah satu barang kebutuhan manusia, maka perekonomian mereka akan terganggu dan mereka akan kesulitan mendapatkan barang yang dibutuhkan, sedangkan tempat-tempat yang luas, apabila ada yang menimbun barang dagangannya, biasanya tidak memengaruhi perekonomian manusia, sehingga tidak dilarang ihtikaar di dalamnya. Asal perkataan ini oleh Imam Ahmad rahimahullah.

v  Boleh ihtikaar secara mutlak[2]. Mereka menjadikan hadits-hadits Nabi yang memerintahkan orang yang membeli bahan makanan untuk membawanya ke tempat tinggalnya terlebih dahulu sebelum menjualnya kembali sebagai dalil dibolehkannnya ihtikaar. Seperti dalam hadits riwayat Imam Bukhari rahimahullah:

رأيت الذين يشترون الطعام مجازفة، يضربون على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يبيعوه حتى يؤووه إلى رحالهم.

“Aku melihat orang-orang yang membeli bahan makanan dengan tanpa ditimbang pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka dilarang menjualnya kecuali harus mengangkutnya ke tempat tinggal mereka terlebih dahulu”.

Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Seakan-akan Imam Bukhari menyimpulkannya dari perintah untuk memindahkan makanan ke tempat tinggal serta larangan menjual makanan sebelum selesai transaksi jual beli. Apabila menimbun barang itu haram hukumnya, tentu tidak akan ada perintah yang berakibat terjadinya penimbunan”.

Demikian pula tentang waktu diharamkannya monopoli. Ada ulama yang mengharamkan monopoli pada segala waktu, tanpa membedakan masa paceklik dengan masa surplus pangan, berdasarkan sifat umum larangan terhadap monopoli dari hadits yang sudah lalu. Ini adalah pendapat golongan salaf.

Pendapat yang Kuat Tentang Ihtikaar

Adapun pendapat yang terkuat adalah diharamkannya ihtikaar mencakup semua jenis barang yang dibutuhkan oleh manusia. Hal ini karena karena keumuman hadits-hadits Nabi yang melarang ihtikaar, dalil-dalil itu bersifat umum, adapun beberapa hadits yang menyebutkan bahan makanan saja maka itu termasuk penyebutan contoh yang dilarang. Jadi larangan menimbun/ihtikaar mencakup semua kebutuhan manusia secara umum baik bahan makanan atau lainnya, maka termasuk yang dilarang adalah menimbun sembako (beras, minyak, gula, dll), BBM, bahan bangunan, pupuk dan semua barang yang dibutuhkan manusia.

Ali (2008) menambahkan kriteria ihtikaar yang dilarang harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Barang yang ditimbun merupakan kebutuhan manusia secara umum baik berupa bahan makanan atau selainnya, karena suatu ketika kebutuhan manusia selain bahan makanan (seperti pakaian ketika musim dingin misalnya) lebih dibutuhkan daripada bahan makanan, dan kebutuhan mereka kepada bahan bakar minyak kadang-kadang lebih mereka rasakan daripada kebutuhan mereka terhadap bahan makanan.
  • Ihtikaar haram hukumnya apabila manusia sangat membutuhkan barang yang ditimbun tersebut, sehingga apabila ada orang yang menimbun beras misalnya tetapi saat itu beras melimpah dan manusia dapat membelinya dengan harga wajar maka saat itu menimbun tidak dilarang.
  • Orang yang menimbun barang dagangannya bermaksud menjual dengan harga yang tinggi sehingga menyulitkan manusia. Jadi apabila dia menjual dengan harga standar, sehingga tidak menyulitkan, bahkan memudahkan urusan mereka, maka ini tidak dilarang.

Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah juga memberikan kriteria yang hampir sama sebagaimana dijelaskan dalam kitabnya fikih sunnah, para ahli fiqih berpendapat bahwa penimbunan barang diharamkan (terlarang) setelah memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Barang yang ditimbun lebih dari apa yang dibutuhkan untuk kebutuhan setahun penuh. Karena seseorang hanya dibolehkan menyimpan atau menimbun persediaan nafkah pangan untuk diri sendiri dan keluarganya selama satu tahun, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Pemilik tersebut menanti kenaikan harga barang agar pada saat menjualnya ia mendapatkan harga yang lebih tinggi.
  • Penimbunan dilakukan pada saat masyarakat sangat membutuhkan barang-barang tersebut seperti makanan, pakaian dsb. Apabila barang-barang tersebut berada di tangan para pedagang dan tidak dibutuhkan oleh masyarakat, maka hal itu tidak dianggap sebagai penimbunan barang karena tidak menimbulkan kesulitan publik (Sabiq 2006).
Referensi

Al Asqalani, Ibnu Hajar.______. Fathul Bari Penjelasan Kitab Shohih Al Bukhori. Amiruddin, penerjemah. Jakarta: Pustaka Azzam. Terjemahan dari: Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari

Al Asqalani, Ibnu Hajar.______. Fathul Bari Syarh Shohih Al Bukhori. Beirut: Darul Fikr. (software Maktabah Asy Syamilah).

Ali, Muhammad. 2008. Hukum menimbun barang dagangan. Dalam: Al Furqon Edisi 7 th ke-7, hlm.35-37 kolom 2

Sabiq, Sayyid. 2006. Fiqih Sunnah. Nor Hasanuddin, penerjemah. Lebak Bulus: Pena Pundi Aksara. Terjemahan dari: Fiqhus Sunnah.


[1]               Kami banyak menukil pembahasan ini dari majalah Al Furqon Edisi 7 th ke-7

[2]               Sebagaimana dhohirnya perkataan Imam Bukhari yang menulis bab jual beli makanan dan penimbunan, akan tetapi hadits-hadits yang beliau cantumkan sama sekali tidak terdapat masalah penimbunan, seperti yang dikatakan oleh Al Ismaili (dinukil dari kitab fathul bari hlm.186-187).

 


, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: